SUARANUSANTARAnews
Kabupaten Tegal – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tegal semakin diperkuat melalui sinergi antara Program Intervention Nutrition and Early Years (INEY) Tahun 2026 dengan Praktik Kerja Nyata Interprofessional Collaboration (PKN IPC) Poltekkes Kemenkes Semarang.

Kolaborasi tersebut berhasil melahirkan 39 inovasi kesehatan berbasis masyarakat yang dikembangkan oleh 720 mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan dan diimplementasikan di tiga kecamatan sasaran.
Berbeda dengan pelaksanaan PKN pada umumnya, PKN IPC tahun ini dirancang sebagai bagian dari pembelajaran terintegrasi dengan Program INEY. Mahasiswa tidak hanya melakukan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga terlibat dalam mendukung sebelas program intervensi INEY Tahun 2026 melalui pendekatan kolaboratif bersama pemerintah daerah, puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat.
Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang, Dr. Bedjo Santoso, S.SiT, M.Kes, menyampaikan bahwa integrasi ini menjadi model pembelajaran yang mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan nyata pembangunan kesehatan daerah.
“Mahasiswa belajar menyelesaikan persoalan kesehatan secara nyata di lapangan, sementara pemerintah daerah memperoleh dukungan sumber daya dan berbagai inovasi yang dapat dikembangkan secaraberkelanjutan.
Inilah bentuk nyata implementasi Poltekkes berdampak,” ujarnya.
Sebanyak 720 mahasiswa diterjunkan ke desa-desa di tiga kecamatan yakni Lebaksiu, Balapulang dan Kramat, Kabupaten Tegal. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu kesehatan sehingga
mampu menerapkan pendekatan interprofessional collaboration dalam mengidentifikasi masalah, menyusun intervensi, hingga menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selama pelaksanaan program, mahasiswa bersama dosen pembimbing dan tenaga kesehatan di Puskesmas Kramat, Balapulang, Lebaksiu dan Kalibakung dalam rangka mendukung berbagai kegiatan prioritas INEY, antara lain monitoring dan evaluasi pelaksanaan Posyandu Integrasi
Layanan Primer (ILP), validasi data sasaran imunisasi, pendampingan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk refreshing bagi bidan mengenai implementasi 12 standar Antenatal Care (ANC).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kualitas pelayanan kesehatan dasar sekaligus memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran. Selain mendukung pelayanan kesehatan, mahasiswa juga mengembangkan 39 inovasi kesehatan masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian akar permasalahan stunting dan TBC di desa sasaran.
Inovasi tersebut disusun berdasarkan hasil identifikasi masalah bersama masyarakat,
pemerintah desa, puskesmas, dan kader kesehatan, sehingga mampu menjawab kebutuhan lokal
sekaligus mendukung sebelas intervensi prioritas Program INEY Tahun 2026.
Berbagai inovasi tersebut menyasar peningkatan status gizi ibu dan anak, pencegahan anemia remaja putri, peningkatan konsumsi pangan bergizi lokal, penguatan kapasitas kader Posyandu, hingga edukasi kesehatan keluarga.
Di antaranya adalah SI-GENTING yang memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis keluarga, SI PUTRI dan TOKAVA yang mendorong pencegahan
anemia pada remaja putri melalui edukasi dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, Pojok Gizi dan SENANDIKA yang meningkatkan literasi gizi keluarga serta pemanfaatan pangan lokal
bergizi, KANCING KEMBAR dan SIKEMBAR-BUMIPINGKU yang mendukung pendampingan
ibu hamil, ibu balita, dan pemantauan tumbuh kembang anak, serta INFATIK, PUSTU BESTARI, SEMAR MLAYUH, CLING, dan BOLIKA yang memperkuat edukasi kesehatan, pemberdayaan
masyarakat, serta pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa.
Melalui inovasi-inovasi tersebut, mahasiswa menginisiasi berbagai program, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bagi balita dan ibu hamil, gerakan konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri, pendampingan ibu hamil berisiko, penguatan peran keluarga dalam pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), optimalisasi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga peningkatan kapasitas kader Posyandu dalam deteksi dini faktor risiko stunting.
Mahasiswa juga mengembangkan media edukasi digital, modul pendampingan keluarga, serta model pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan potensi pangan lokal sebagai alternatif pemenuhan gizi keluarga.
Seluruh inovasi tersebut tidak berhenti sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa, tetapi dirancang agar dapat diadopsi dan dilanjutkan oleh pemerintah desa, puskesmas, maupun Pemerintah Kabupaten Tegal sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mempercepat penurunan stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan program, Poltekkes Kemenkes Semarang bersama Pemerintah Kabupaten Tegal telah melaksanakan kegiatan advokasi hasil PKN IPC dan Program INEY yang dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Tegal, Dinas Kesehatan, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, puskesmas, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta sivitas akademika Poltekkes Kemenkes Semarang.
Forum advokasi tersebut menjadi ruang untuk memaparkan capaian pelaksanaan program, memperkenalkan berbagai inovasi mahasiswa, sekaligus mendorong adopsi inovasi yang dinilai efektif agar dapat diintegrasikan ke dalam program pembangunan kesehatan daerah. Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, inovasi yang lahir dari mahasiswa tidak berhenti sebagai proyek pembelajaran, melainkan dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Runjati, Bdn., M.Mid
selaku ketua panitia PKN IPC menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari
jumlah inovasi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana inovasi tersebut mampu memperkuat sebelas intervensi prioritas INEY dalam percepatan penurunan stunting.
“Setiapi novasi disusun berdasarkan kebutuhan desa dan diarahkan untuk mendukung intervensi yangtelah menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Tegal. Dengan demikian, hasil pembelajarana Mahasiswa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat program pemerintah,” jelasnya.
Melalui integrasi PKN IPC dan Program INEY, Poltekkes Kemenkes Semarang menunjukkan bahwa perguruan tinggi kesehatan tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan kesehatan.
Sinergi pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tersebut diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah dalam mendukung percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
(Red)







